Wednesday, 21 January 2009
Air
"Tidakkah orang-orang kafir itu melihat bahwa lelangit danbumi disatukan, kemudian mereka Kami pisahkan dan Kami
menjadikan setiap yang hidup dari air. Lantas akankah merekatak beriman?" (QS 21:30).

"(Tuhan sajalah) yang telah menurunkan air dari langit. MakaKami[3] tumbuhkan (dari air itu) berpasang-pasangtumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda." (QS 20:53).
"Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air."(QS 24:45) .
Mungkin karena asal usul manusia itu dari air atau sesuatu yang bersifat air maka umumnya manusia atau manusia kecil alias anak-anak suka bermain-main dengan air. Aku ingat waktu masih kecil dulu kalau sudah musim hujan tiba aku dan adik-adikku selalu bermain hujan-hujanan. Bahkan ketika suatu waktu terjadi banjir di kotaku aku dengan sukacitanya mendatangi daerah banjir di tengah kota tanpa mempertimbangkan bahaya yang mungkin terjadi.
Berbeda dengan masa kecilku itu, sekarang kalau hujan turun aku melarang anak-anakku untuk keluar rumah. Bukan apa-apa sih, aku hanya merasa air hujan yang turun dulu waktu aku masih kecil berbeda dengan air hujan sekarang. Dalam bayanganku udara sekarang tentu berbeda dengan jaman aku kecil dulu. Apalagi di Bandung yang kondisi geografinya berupa cekungan yang dikelilingi pegunungan mengakibatkan polutan yang ada di udara seperti terakumulasi dalam cekungan tersebut. Kebayang kan kalau hujan turun, membersihkan itu semua dan turun kebumi dengan berbagai polutan yang mungkin terbawa.

Kembali ke masalah main air, kebetulan dua bocah kecilku semua suka main air, baik itu renang, mandi di ember besar, maupun siram menyiram tanaman. Pokoknya kalau mandi sendiri bisa sampai hampir satu jam lamanya. Belum lagi kalau ketemu kolam renang, bisa2 seharian di kolam renang. Makanya ketika liburan panjang kemarin sempat mampir ke BSM dari silaturahmi ke saudara, maka mainan yang dipilih ya naik perahu. Padahal sebenarnya setiap hari sabtu pasti renang, tapi masih juga yang dipilih permainan air.
posted by Ummughayda. @ 16:12   0 comments
Wednesday, 24 December 2008
Libur Panjang

Setelah kepenatan akhir tahun, saat istirahat tiba.
Selamat Tahun Baru 1430 M dan 2009 H.
Mudah-mudahan menjadi manusia yang lebih baik dari hari-hari kemarin.
posted by Ummughayda. @ 16:41   0 comments
Friday, 31 October 2008
Puji Oh Puji
Aku berusaha memahami secara proporsional apa yang aku dengar, lihat, dan baca tentang seseorang yang bernama Pujiono Wahyu Widianto, yang dengan mudahnya menikahi seorang anak di bawah umur Luthfiana Ulfa. Tidakkah dia mempertimbangkan berbagai hal yang mungkin akan terjadi sebelumnya. Jelas bahwa dia hidup di negara Indonesia yang punya aturan hukum yang tujuannya tentu untuk melindungi setiap warganya. Bukannya aku tidak mengakui adanya syari'at agama Islam yang notabene adalah agama yang aku banggakan. Memang syarat-syarat pernikahan secara syari'at terpenuhi, tapi apakah itu cukup. Apakah Pujiono ini mempertimbangkan bagaimana perkembangan psikologi anak seusia itu? Kalau dalihnya dulu Aisyah waktu dinikahi Rasulullah usianya juga masih sangat belia. Lalu apakah dia melihat juga bagaimana pola asuh Aisyah dari bayi sampai dinikahi Rasulullah? Samakah dengan pola asuh Luthfiana sekarang? Kenapa saya menyinggung masalah pola asuh, karena setahu saya dari sejarah para sahabat, mereka sejak kecil sudah dijaga kefithrahannya, tentu saja didukung oleh orangtua yang punya pemahaman agama yang baik. Dari kecil sudah ditanamkan aqidah yang kuat, akan keberadaan dan kekuasaan Allah yang Maha segalanya. Dibiasakan membaca dan memahami Al Qur'an dengan baik, dibiasakan dengan contoh langsung bukan hanya teoritis. Tapi bagaimana dengan anak-anak jaman sekarang pada umumnya? Di saat pola asuh didominasi oleh televisi? Di saat orang tua menyerahkan pengasuhan anaknya kepada sekolah, pondok pesantren, kursus-kursus, les-les dsb, tapi ketika di rumah mereka menemukan hal yang berbeda pada kedua orangtuanya. Tentu saja dua model pola pengasuhan ini akan menghasilkan dua kualitas manusia yang berbeda juga. Pujiono juga harus mempertimbangkan pandangan dan opini masyarakat tentang dirinya. Bukankah dia milyarder? Tidakkah mempertimbangkan bahwa bisa jadi orang melihat dari sisi kekayaannya saja. Siapa yang tidak mau jadi besan seorang milyarder di jaman sekarang? Kenapa baru sekarang pengacaranya meminta polisi mempertimbangkan faktor psikis Luthfiana dalam pemeriksaan ?, bukankah seharusnya sebelum memutuskan menikah, Pujiono pun mempertimbangkan faktor psikis Luthfiana.
Aku lihat dari berita di tv (harus berulang kali di cek kebenarannya) bahwa yang mencarikan calon istri adalah istrinya sendiri dengan membuat semacam seleksi berdasarkan prestasi akademik (Ya Allah, apalagi ini?).
Kalau seorang bocah Luthfiana punya kepribadian yang kuat tentu dia tidak akan berkata bohong ketika harus berhenti dari sekolahnya untuk menikah, tapi setahu guru-gurunya dia minta ijin keluar dari sekolah untuk nyantri di pondok pesantren milik Pujiono.
Satu lagi, kalau dia yakin sedang menjalankan syari'at agama yang dianut tentu tidak akan dengan mudah membatalkan pernikahannya ketika mendapat tantangan dari berbagai pihak.
posted by Ummughayda. @ 09:12   1 comments
Wednesday, 15 October 2008
Mudik
Seperti biasa ketika hendak pergi jauh Fajar sudah nggak sabar hari itu datang. Ahad pagi sekitar jam 04.00 anak-anak sudah bangun. Karena kami akan bepergian jauh maka pagi itu kami tidak makan sahur, bukan karena khawatir nggak kuat tapi itu adalah salah satu keringanan yang dicontohkan oleh Rasullullah ketika sedang dalam perjalanan.
Tidak lama sesudah pak Eko -supir yang akan mengantar kami- datang, sekitar jam 06.30 pada H-3 berangkatlah kami menuju kampung halaman. Sampai di didaerah Nagreg ternyata lumayan macet sehingga arus kendaraan diarahkan keluar lewat Cijapati. Jalan yang kami lalui memang agak sepi, menurutku mirip jalan di daerah puncak Bogor atau jalan ke arah Pameungpeuk. Karena jalan yang kelihatannya memutar, jam 12.00 kami baru nyampai Ciamis. Istirahat sebentar, sholat, dan makan siang. Sayangnya pak Eko nggak mau makan siang karena katanya sudah niat shaum dan kalau dibatalin, nggantinya malas.
Mudik kali ini kami memilih perjalanan lewat jalur selatan pulau Jawa yang tidak seramai jalur Utara. Ketika melewati suatu kabupaten di Cilacap terlihat sepanjang jalan para penjual layang-layang plastik dan seperti yang sudah aku duga Fajar minta dibelikan layang-layang unik tersebut.
Ketika hari sudah menjelang senja anak-anak sudah terlihat kelelahan, maka mereka pun tidur di pangkuanku. Tidak lama setelah mendengar adzan maghrib kami berhenti untuk sholat dan makan malam. Perjalanan kemudian dilanjutkan dan ketika jarum jam menunjuk ke angka 9 kami baru memasuki kota Yogyakarta. Masih sekitar 4 jam lagi kami sampai ke tujuan.
Khawatir dengan kondisi supir, aku minta pak Eko istirahat dulu, tapi nggak mau katanya tanggung. Jadinya pada sisa waktu perjalanan itu praktis aku nggak tidur sama sekali sampai jam 1 dinihari karena khawatir.
Alhamdulillah Senin dinihari kami sampai di rumah Bapak dan Ibu dan sudah ditunggu sejak sore hari. Mbah Kung dan Mbah Uti sangat senang bertemu cucu-cucunya, terutama Mbah Uti yang ingin cepat melihat Ghayda. Mbah Uti penasaran karena setahun yang lalu Ghayda belum bisa lancar bicara, tapi akhir2 ini dia sangat cerewet kalau sedang nelpon Mbah Uti nya. Capek karena perjalanan panjang 18 jam hilang setelah bertemu dengan Mbah dan Paklik.
posted by Ummughayda. @ 13:09   0 comments

Powered by Blogger

Subscribe to
Posts [Atom]

100% Indonesia
About Me

Name: Ummughayda.
Home:
About Me:
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links
Blogroll
Anda Pengunjung Ke
Sponsored by
Web Hosting
Dimana Anda?
Locations of visitors to this page
Kalender Hijriyah
Jadwal Sholat